Khutbah Idul Adha
Khutbah Jumat
Z
ZAENAL ABIDIN
9 Mei 2026
4 menit baca
2 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
"يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ"
(O kaum beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan menyerahkan diri (kepada-Nya)).
*_ _ _*
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Hari ini adalah hari agung, hari yang Allah Ta'ala muliakan dalam syariat Islam. Hari Idul Adha, hari kurban, hari penuh keberkahan. Di hari yang cerah ini, ruh seorang ayahanda, Nabi Ibrahim Alaihis salam, seolah berbisik kepada kita. Bisikan kepasrahan total kepada Sang Khaliq. Bisikan pengorbanan tulus yang menggetarkan semesta.
Pernahkah kita meresapi betapa beratnya perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih buah hatinya, Ismail Alaihis salam? Satu-satunya permata di rahimnya, anugerah terindah setelah penantian panjang. Betapa hati seorang ayah menjerit, namun jiwa seorang hamba taat bergemuruh lebih kencang. Ia tidak berdiskusi, tidak menawar, tidak mempertanyakan kebijaksanaan Rabb-nya. Ia hanya menjawab dengan kepatuhan mutlak.
"فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ"
(Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?" Ismail menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar").
Lihatlah akhlak mulia sang anak. Ia tidak menangis, tidak memohon untuk dibebaskan. Justru ia memberikan kekuatan kepada ayahnya, menenangkan hati yang sedang dilanda ujian terberat. "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Kalimat yang membelah kebekuan jiwa, kalimat yang menjadi bukti ketundukan luar biasa dari keduanya.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah pelajaran hidup yang abadi. Ia mengajarkan kita makna hakiki dari "takwa". Takwa yang sesungguhnya, adalah ketika perintah Allah melampaui cinta kita pada diri sendiri, pada harta benda, bahkan pada orang-orang terkasih. Takwa adalah ketika Allah dan Rasul-Nya menjadi prioritas utama dalam setiap langkah dan keputusan kita.
Di hari Idul Adha ini, Allah Subhanu wa Ta'ala berfirman:
"وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ"
(Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan kurban, supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan-Nya kepada mereka; maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa kurban bukan sekadar ceremonial. Ia adalah ibadah yang sarat makna. Kurban adalah simbol penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Saat kita menyembelih hewan kurban, sejatinya kita sedang melatih diri untuk menyembelih hawa nafsu, egoisme, keserakahan, dan segala bentuk penyakit hati yang menghalangi kita untuk dekat dengan Sang Maha Pencipta.
Namun, jangan sampai semangat Idul Adha ini hanya berhenti pada ritual penyembelihan. Kurban yang diterima Allah adalah kurban yang lahir dari ketakwaan hati. Sebagaimana firman-Nya:
"لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ"
(Daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada Allah ialah takwa kamu. Demikianlah Allah mengundangkan yang demikian itu supaya kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang Dia berikan kepadamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik).
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mari kita renungkan. Adakah di dalam hati kita yang masih membandel? Adakah dalam diri kita yang masih tersisa kesombongan, keangkuhan, dan kecintaan yang berlebihan pada dunia? Adakah di antara kita yang enggan berkorban dalam urusan agama, enggan berbagi dengan sesama, atau masih menyimpan dendam dan kebencian terhadap saudara seiman?
Jika ya, maka Idul Adha ini adalah panggilan ilahi untuk membersihkan hati kita. Sama seperti Nabi Ibrahim yang siap mengorbankan putranya, kita pun harus siap mengorbankan ego kita demi menggapai ridha Allah. Sama seperti Ismail yang sabar menerima takdir Allah, kita pun harus sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan hidup.
Mari kita jadikan momen Idul Adha ini sebagai titik tolak untuk memperbaharui komitmen kita kepada Allah. Mengorbankan sedikit kenikmatan dunia demi kebahagiaan akhirat yang abadi. Mengorbankan waktu dan harta kita untuk berbakti kepada Allah dan sesama. Membuang jauh-jauh segala penyakit hati, dan menggantinya dengan iman yang kokoh, cinta yang tulus, dan kepasrahan yang total.
Semoga Allah Ta'ala menerima segala amal ibadah kita, kurban kita, dan menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang bertakwa dan senantiasa beruntung.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.